:: The Anonymity ::

Fictional Stuff of My Non-fictional Life

Cerita dari Sahabat (numpang di blog)

        =Cerita dari seorang Sahabat…

AKU TIDAK AKAN MENGHILANG

 

I believe I can fly. I believe I can write. I believe I can do it.  Unfortunately, I never really do it.

          Aku merasakan ada naluri dalam diri bahwa aku bisa menjadi penulis. Entah kapan atau pada masa apa aku benar-benar bisa menjadi seorang penulis. Meskipun belum ada satu pun karya yang pernah dimuat di media massa (hiks…hiks…!)

          Aku suka berkhayal akan sesuatu yang ada dalam pikiranku. Aku suka menyusun cerita dalam anganku. Aku juga suka merekayasa kejadian yang pernah aku lihat. Namun, semua hanya ada dalam pikiranku. Tak jarang aku tak bisa benar-benar menuangkan semua ide itu dalam sebuah tulisan atau rangkaian kata-kata.

          Mungkin terlalu malas atau kurang percaya diri bahwa aku bisa meluangkan sedikit saja waktu untuk menulis sebuah kata. Menghanyutkan diri dalam kerumitan alur khayalan. Aku sering merasa bosan dalam beberapa kalimat yang berujung aku tak menulis apa-apa. Jenuh.

          Kekecewaan yang muncul dari irama setiap kata semakin menjatuhkanku dalam rasa ketidakberdayaan untuk melodi sebuah kalimat. Tak pernah aku tahu akan jawaban dari sebuah pertanyaan tentang bagaimana tulisan bisa membuatku hidup.

          Tentang sebuah cerita tentang sisi yang hampir hilang dari diriku…

          Aku tak bisa benar-benar yakin akan kemampuan yang aku yakini ada dalam diriku. Aku terjebak paradigma bahwa aku hanya seorang yang tak mempunyai kelebihan. Tak bisa mendengar jeritan diri atau berusaha membuka kesempatan yang tersembunyi. Tak berani melangkah untuk berlari menggapai harapan itu. Entah apa yang begitu mengekangku untuk diam sepanjang detik yang terdengar.

           Sepi yang sering menghampiri menjadikanku tak tahu harus berbuat apa. Kegalauan yang melanda terkadang mengaburkan bayang tentang mimpi. Sakit terjatuh membawa rasa perih yang tak berdaya. Keheningan terdalam merasakan sepi yang begitu hampa. Untuk apa aku hidup? Diam.

          Bukan amarah yang ingin aku dapat. Bukan tangis yang kuharapkan bisa mengobati kehidupanku. Bukan pula ketidakberdayaan yang aku harapkan. Dan aku tak bisa terus hanya diam. Tidak.

          Jauh dalam rasa ketidakmampuanku membawaku memiliki keberadaan. Mencari jalan yang memberikan kepercayaan bahwa aku ada. Aku masih bernapas, aku masih berirama, aku masih menyimpan melodi. Aku tak ingin menghilang. Aku menjerit.

          Kegilaanku muncul. Aku tak peduli apa yang aku rasakan. Aku tak berpikir apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku menepis semua rasa sepi dan galau. Menumpahkan semua menjadi melodi tak beraturan dalam rangkaian kata. Tak peduli irama yang mungkin terdengar. Aku hanya mempedulikan diriku sendiri, menahan diriku agar aku tak menghilang.

          Menembus batas yang sering menghalangi. Meruntuhkan retak jiwa yang tersisih. Aku mulai menulis. Menulis untuk keberadaan egoku.

          Mengumpulkan sisa-sisa rasa letih bahwa aku bisa. Aku mencoba kembali hidup. Menyadarkan lamunan tentang kata kosong jika aku adalah kesendirian. Kembaliku teringat kata dalam diri bahwa aku memiliki orang-orang yang sangat menyayangiku, mengingat rasa cinta dan kasih yang telah diberikan padaku. Tulisan yang kubuat kembali menyadarkanku tentang hal-hal yang sering kulupakan. Hal-hal indah yang tanpa kusadari selalu membuatku hidup dan berarti di dunia ini. Melodiku memang tak sempurna untuk didengar. Namun, aku yakin bahwa aku tak akan menghilang. Aku menulis, maka aku ada.

          Saat tak tahu kata apa yang harus aku katakan, tulisanku lah yang mengatakannya. Saat sepi membuatku bosan, tulisanku lah yang membuat keributan melodi. Tercipta irama-irama tak beraturan dari semua kata-kataku. Aku memang belum bisa menyusunnya untuk indah didengar, tetapi aku merasa terhibur dengan kata-kata yang aku buat.

          Jika aku terjebak dalam kehampaan dan kekosongan rasa, aku akan mendekatinya dengan memanggil kehangatan melalui tulisan. Mencairkan kebekuan yang menggigil.

          Aku percaya aku bisa terbang seperti aku percaya bahwa aku bisa menulis. Aku ingin membawa terbang irama setiap kata yang bisa didengar oleh orang lain. Ya, aku sering membawa kata-kata hanya di dalam diriku. Aku belum pernah benar-benar bisa membagi irama pada orang lain. Aku tak hanya ingin menikmati tulisanku seorang diri. Aku pun ingin membawa orang lain terbang bersama menikmati keberadaan jiwa yang bersembunyi. Menciptakan senyuman hangat dari melodi yang terdengar dari rangkaian kalimat, meski belum berirama merdu.

          Tak aku mengerti mengapa menulis bisa menyembuhkanku tentang jiwa yang kehilangan irama. Menemukanku dalam melodi tersembunyi. Kembali membawaku terbang melayang tentang kehidupan.

          Entah bagaimana awalnya aku bisa menemukan sesuatu dalam tulisan yang aku buat. Namun, kadang aku merasa aku tak benar-benar melakukan yang terbaik saat menulis. Aku masih terjebak dalam kerumitan menyusun irama yang bisa didengar oleh semua orang. Terlalu lama aku hanya bisa memikirkan tulisan terbaik apa yang bisa aku buat untuk membawa mereka terbang, tanpa benar-benar menumpahkan pikiran itu dalam sebuah tulisan.

          Seharusnya aku sudah yakin bahwa tak ada yang sia-sia dari irama setiap kata yang kuciptakan. Aku masih belum yakin dengan hentakan yang aku rasakan. Aku tidak pernah benar-benar mempedulikannya. Aku sangat egois membiarkan setiap pukulan menghantam jiwaku dan tak menyusun iramanya. Aku tahu aku bukan manusia sempurna, dan aku pun selalu mengalah pada semua ketidaksempurnaan. Bodoh. Apa aku hanya bisa diam dan membiarkan diriku menghilang?

          Aku tak perlu takut dengan keraguan diriku sendiri. Sudah cukup lama aku hanya diam dan tak berani melangkah. Aku tidak peduli lagi jika masih banyak irama yang tak senada atau kata yang tak memiliki arti. Aku akan terus menulis, apapun yang terjadi. Berlatih menciptakan irama dari setiap kata yang bisa aku buat. Memberikan inspirasi pada orang yang bisa mendengar melodi kalimatku. Aku ingin memahami dunia dan membuat semua orang percaya bahwa kita tak harus terbang untuk melihat seisi dunia dan kita tidak akan menghilang. Karena dunia yang akan memperhatikan kita dengan kata-kata yang terangkai.

 

                                                                                                          /271207/ 10:09 AM

May 22, 2009 - Posted by | Be a Learner, Bete dot com, Haiyaaa, I just run!!!

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: