:: The Anonymity ::

Fictional Stuff of My Non-fictional Life

I’m In The Universe

I’m In The Universe
NB: si “aku” adalah fiksi…^^. Nih rencananya aq mo bikin cerita, tapiiii…masih bingung hehehe.

Ada banyak tokoh astronomi di dunia sebut saja Anaximander, Aristharkus, Aristoteles, James Bradley, Nicolaus Copernicus, Galileo Galilei, Johann Gottfried Galle, Edmond Halley, Edwin Hubble, dan…yah, masih banyak yang lain. Ada juga salah satu fisikawan yang terkenal dengan rumus E=mc2 dan tanpa pikir panjang lagi, kita semua tahu bahwa dia adalah eyang buyut Einstein.
Pertanyaannya, apakah kita mengenal mereka semua?
Ah, aku sendiri tak mengenal satu pun diantara mereka. Sekedar tahu nama dan foto mereka, itu saja.
Baiklah lupakan pertanyaan itu.
Disadari atau tidak sejak jaman dahulu orang selalu bertanya bagaimana bentuk bumi, bagaimana ia terbentuk, benda apa lagi yang ada selain bumi, bagaimana bentuk tata surya, apakah mereka berputar, bagaimana terciptanya siang dan malam, hingga sampai kapan bumi akan bertahan.
Aku sendiri sering merasa takut jika nanti pada akhirnya bumi akan hancur. Isu pemanasan global yang makin marak membuatku berpikir berapa tahun lagi bumi akan bertahan. Masihkah ada sisa usia untuk bumi ini?
Manusia memang tamak. Entahlah mungkin aku juga termasuk salah satu diantara mereka. Kadang aku merasa manusia tidak pernah memiliki rasa puas. Selalu ingin lebih dan ingin lebih baik. Tha’s the nature of human being, I think.
Kembali ke masa berabad-abad yang lalu tentang teori penciptaan alam semesta.
400 tahun sebelum masehi Plato pernah mengatakan bahwa semua objek bergerak relatif mengitari bumi. Mbah Plato ini yakin bahwa semua benda-benda langit bergerak mengelilingi bumi. Ia berkata bahwa bumi itu datar. Teori geosentris, yapz Plato meyakini teori itu. Teori ini juga diperkuat oleh Ptolomeus sejak 140 tahun setelah masehi dan terus diyakini hingga 1400 tahun lamanya.
Manusia pada dasarnya tidak mudah percaya pada hal-hal yang tidak mereka yakini. Aih, kalimatku ini aneh juga. Tentu saja tidak ada yang percaya pada apa yang tidak diyakini.
Setelah kemunculan teori geosentris, muncullah teori baru yang bernama teori heliosentris. Copernicus yang setiap malamnya mengamati posisi bintang-bintang yang berubah setiap tahunnya, menyimpulkan bahwa sebenarnya bumi dan planet-planet lah yang bergerak mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya di dalam sebuah orbit lingkaran. Tentu saja tidak mudah mempercayai sebuah teori baru sedangkan masyarakat pada jaman itu sudah turun temurun mempercayai bahwa bumi adalah pusat edar. Copernicus pun berujung pada hukuman mati.
Sampailah pada abad ke-16, Galileo dengan teleskop sederhananya memperkuat pendapat Copernicus tentang teori Heliosentris. Namun, Galileo pun menemui ajalnya setelah dipenjara seumur hidup untuk menebus kebenaran yang kini telah diakui seluruh dunia.
Aku tak bermaksud berteori di sini, hanya saja aku ingin memahami lebih jauh di mana aku berada sekarang. Aku tak pernah memilih untuk tinggal di bumi. Aku juga tak pernah meminta untuk menjadi manusia. Aku juga sama sekali tak pernah merajuk untuk bisa mengenal bumi, bintang, tata surya, galaksi, atau apapun itu. Bahkan aku tak pernah bisa mengingat di mana aku berada pada 19 tahun yang lalu. Aku hanya ingat bahwa saat ini jantungku masih berdetak. Entahlah aku tak mengerti mengapa detak jantung ini seolah sedang mengatakan sesuatu. Begitu berirama. Aku sama sekali tak bisa memahami semuanya.
“Tahu nggak Mbah Einstein dulu itu pernah bilang kalau bumi ini statis. Jarak dan kedudukan antar planet tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.”
Aku hanya mengerutkan keningku saat Pakde Arif yang sangat suka ilmu astronomi itu mengajakku berbicara di suatu siang.
“Tapi seiring perjalanan waktu dan ditemukannya alat-alat canggih, kini mulai terkuaklah misteri penciptaan alam semesta yang sesungguhnya.”
“Misteri?” tanyaku.
“Big Bang!!!”pekiknya.
Aku melonjak. Pakde membuatku terkejut dengan suara bass-nya.
“Sebuah teori ledakan besar tentang awal mula alam semesta terbentuk. Dari ketiadaan…hingga adanya satu massa materi yang kepadatannya sangat maha super dahsyat. Bayangkan dalam sebuah kubus seukuran dadu, seperti dadu monopoli, memiliki massa bermilyar-milyar ton. Massa itu kemudian meledak seperti proses ledakan nuklir. Kabooom!!!”
Pakde Arif tampak sangat bersemangat.
“Zaman itu bumi, matahari, dan seluruh isi jagad raya ini ada dalam satu kesatuan utuh berbentuk sebesar bola tenis. Kemudian bola itu mengembang karena panas dan akhirnya meledak. Setelah ledakan itu, hancurlah si bola tenis itu ke segala penjuru membentuk ‘serpihan-serpihan’ dan saat saling berjauhan, alam semesta mengalami pendinginan. Materialnya ada yang berubah jadi hidrogen juga. Dari hidrogen itu terciptalah air yang merupakan cikal bakal kehidupan.”
“Apakah teori itu benar? Bagaimana manusia bisa membuktikannya?”tanyaku.
“Tanya saja sama Om Hubble.”
“He?”
“Dia yang namanya diabadikan menjadi nama sebuah teleskop raksasa yang dioperasikan oleh NASA. Teleskop Hubble, pernah dengar?”
Aku menggeleng.
“Hmmm…sedikit rumit. Hubble inilah yang pada tahun 1924 menunjukkan bahwa ada galaksi lain di luar galaksi kita. Pada tahun 1929 ia mengumumkan bahwa alam semesta mengembang dan bahwa galaksi bergerak saling menjauhi denga kecepatan yang semakin tinggi.”
“Sampai sekarang ledakan itu masih terjadi. Para ilmuwan mengakui bahwa alam semesta tetap dalam proses mengembang. Menurut pengukuran terakhir, galaksi bergerak pada 15 km/dt tiap jarak satu juta tahun cahaya.”
Aku paham tetapi agak sedikit pusing karena satu pertanyaan yang masih mengambang. Bagaimana manusia bisa tahu apa yang terjadi di masa penciptaan alam semesta itu. Toh, pada saat itu belum ada kehidupan apalagi manusia.
“Ilmu. Karena ada ilmu, pengetahuan.”
Aku hanya manggut-manggut.
Jadi seperti itu alam semesta terbentuk. Big Bang!
Bumi, planet, bintang, matahari, galaksi, alam semesta. Bumi beserta matahari dan planet-planetnya adalah satu dari seratus milyar tata surya yang berada di galaksi bima sakti. Dan selain galaksi Bima Sakti masih ada milyaran galaksi lagi di alam semesta ini. Milyaran galaksi yang tampak di alam semesta ini pun hanya merupakan satu persen dari jumlah seluruh materi yang teramati di alam semesta hingga kini.
Lalu, aku di mana?
Melihat matahari saja aku tak pernah mampu. Cahayanya terlalu menyilaukan. Melintasi seluruh benua apalagi mengarungi seluruh samudera aku tak pernah sanggup. Aku begitu kecil.
Bumi seakan hanya satu butir pasir di tengah padang gurun. Dan aku ada di dalam pasir itu bersama seluruh penghuni dunia. Mata ini kadang menipu. Apa yang tampak besar sebenarnya sangatlah kecil.
Tiada yang bisa menandingi.
Tak ada satu pun yang bisa menyombongkan diri.
Hanya ada Satu.
Allah…
Begitu kecil aku di dunia ini. Begitu lemah aku tanpa kuasa-Nya. Siapa aku?
Saat ini aku masih bisa bernafas di sini. Aku berada di alam semesta. Karena kehendak-Nya aku masih hidup saat ini. Hanya karena kemurahan hati-Nya aku masih bisa mendengar detak jantungku.
Apa yang bisa kusombongkan di bumi ini? Tak bisa dan tak pernah ada yang bisa kusombongkan. Aku manusia biasa (dan aku yakin banyak orang yang merasa dirinya hanyalah orang biasa). Namun, bukan berarti manusia dilahirkan untuk menjadi tidak berguna. Ada tujuan di balik semua penciptaan. Manusia diciptakan…dari ketiadaan dan nantinya pun akan kembali ke ketiadaan.
Hmmm…seperti itu juga kah alam semesta?
***

June 20, 2009 - Posted by | Be a Learner, My Dreamz, My Stories | , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: